Keutamaan Puasa Sunnah Bulan Muharram

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Bulan Muharram sangat istimewa bagi Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah,  pada bulan Muharram, Rasulullah SAW melihat orang­orang Yahudi melaksanakan puasa Al­Asyura  yang menjadi kebiasaan mereka. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada orang­orang Yahudi yang sedang berpuasa. Yahudi Madinah menjawab  kami berpuasa, karena bersyukur atas  keselamatan Musa dari kejaran Firaun.

Kemudian Rasulullah SAW merespon  Kalau begitu, kami (umat islam) lebih berhak mengikuti Nabi  Musa as . Akhirnya, Rasulullah SAW melaksanakan puasa Al­ Syura dan Al­Tasuah. Jika orang  Yahudi hanya melaksanakan puasa pada 10 Muharram (Al­Asyura) saja, maka Rasulullah SAW  mengajak para sahabat untuk melaksanakan puasa Al­Tasuah (ke­9) dan Al­Asyura (10), agar supaya  tidak sama dengan orang Yahudi.

Sejak saat itu, maka puasa pada hari ke­ 9 dan ke­10 menjadi sunnah (mendapat pahala bagi yang  mengerjakan dan tidak berdosa bagi yang meninggalkan). Jika masih belum bisa mengerjakan  puasa sunnah, maka berbagi makan (buka puasa) kepada orang­orang yang sedang berpuasa  pahalanya setara dengan orang berpuasa. Rasulullah SAW berkata

Rasulullah SAW berkata  Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti  orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga   (HR. Al­Tirmizi). Dalil Kesunnahan Puasa Bulan Muharram Secara umum, puasa di bulan suci Muharram di sunnah kan berdasarkan hadis Rasulullah SAW sebagai  berikut.

Rasulullah SAW berkata,  Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah,  yakni Muharram. Sementara sholat paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam (HR.  Muslim).


Secara umum hadis ini menerangkan bahwasanya melaksanakan puasa Muharram itu Sunnah.  Hadis ini juga menjelaskan bahwa bulan Muharram, sejak tanggal 1 hingga ahir bulan sangat  dianjurkan puasa sunnah. Tentu saja bagi bagi yang mampu. Berdasarkan hadis di atas, sebagian  besar ulama berpendapat bahwa kesunnahan puasa Muharram bisa dimulai pada tanggal 1  Muharram. Apalagi, Rasulullah secara spesifik tidak menentukan waktunya.

Di dalam kitab yang di tulis oleh Syekh Al­Mubarakfuri dengan judul Tuhfatul Ahwadzi fi Syarhi  Sunan Tirmidzi) menerangkan bahwa puasa yang paling afdal di bulan Muharram adalah pada tanggal 9 dan 10, 11 Muharram.

Puasa Muharram tiga hari yang paling utama, pertama, yang paling utama ialah puasa di hari  kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Kedua, puasa di hari kesembilan dan  kesepuluh. Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja.

Imam Nawawi juga berpendapat bahwa puasa yang disunnahkan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.  Karena Rasulullah puasa pada tanggal 10 (Al­Sysura) Ketika berada di Madinah. Sedangkan puasa  pada 9 (tasuah), merupakan Sunnah qouliyah (Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya).

Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya  puasa  Asyura, dengan keutamaan bisa menghapuskan dosa setahun pada masa lalu. Hari  Asyura  adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram.

Pahala Puasa Al­Syura.

Rasulullah SAW berkata

Rasulullah SAW  Puasa hari  Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan  dosa setahun yang telah lalu (HR. Muslim)

Dalam keterangan hadis lain, Rasulullah SAW pernah ditanya seputar fadilah puasa hari Al­Asyura.  Rasulullah SAW menjawab  puasa Al­Syura dapat menghapuas dosa­ dosa kecil setahun yang lalu (HR.Muslim).

Leave a Replay